Logo DKM AR-RASYID

DKM AR-RASYID

Portal Informasi DKM

Ashar

15:25

Kisah Friday, 28 August 2026 • 93 pembaca

Bilal bin Rabah r.a. ditegur sahabat saat mengumandangkan azan karena kurang fasih

Ar-Rasyid Pengurus DKM / Humas
Bilal bin Rabah r.a. ditegur sahabat saat mengumandangkan azan karena kurang fasih

Kisah saat Bilal bin Rabah r.a. ditegur atau ditertawakan oleh sebagian orang karena kurang fasih melafalkan azan 


merupakan salah satu momen penting yang menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW membela kedudukan sahabatnya.


Berikut adalah poin-poin penting mengenai peristiwa tersebut:

  1. Kronologi Peristiwa Latar Belakang Bilal
  2. Bilal bin Rabah berasal dari Habasyah (Afrika). 
  3. Karakteristik dialek asalnya membuat Bilal kesulitan melafalkan huruf-huruf Arab tertentu dengan sempurna.
  4. Kesalahan Pelafalan: Saat mengumandangkan azan, 
  5. Bilal sering kesulitan melafalkan huruf Syin (ش). 
  6. Alih-alih mengucapkan kalimat syahadat secara fasih yakni "Asyhadu al laa ilaaha illallah" (اشھد ان لا الہ الا اللہ), 
  7. lidahnya secara alami melafalkannya menjadi "Ashadu al laa ilaaha illallah" (اسھد ان لا الہ الا اللہ) menggunakan huruf Sin (س).


Teguran dari Sebagian Kaum:

Mendengar pelafalan yang dinilai kurang fasih tersebut, beberapa orang di Madinah (terutama yang belum mengenal dekat sosok Bilal) sempat menegur, mengkritik, 

bahkan menertawakannya.Pembelaan dari Rasulullah SAWMelihat Bilal dikritik karena keterbatasan lisannya, 


Rasulullah SAW langsung menegur orang-orang tersebut dan membela Bilal. 

Rasulullah SAW bersabda:

"Anda sekalian menertawakan azan Bilal, padahal Allah mendengar azan Bilal sembari tersenyum (meridhainya)."


Dalam riwayat lain yang senada, disebutkan pula bahwa di sisi Allah, 


huruf Sin yang diucapkan oleh lisan Bilal yang tulus nilainya sama dengan huruf Syin di hadapan-Nya.

Pelajaran yang Dapat DiambilKetulusan Hati Lebih Utama: 



Allah tidak melihat kesempurnaan fisik atau kefasihan lidah semata, 

melainkan ketulusan iman dan pengorbanan hati.

Penghargaan atas Perjuangan: 


Bilal adalah salah satu orang pertama yang memeluk Islam dan bertahan di bawah siksaan yang sangat kejam. 

Keteguhannya itulah yang membuatnya dipilih menjadi muazin pertama dalam Islam, bukan sekadar karena dialek Arabnya.


kisah ini menyimpan pertanyaan yang jauh lebih dalam:

Apa yang sebenarnya didengar oleh Allah dari suara seorang hamba?


Apakah hanya ketepatan bunyinya?


Ataukah Allah juga melihat hati yang berada di balik suara itu?

Ketika manusia mendengar suara, Allah melihat hati

Manusia sering menilai sesuatu dari apa yang tampak.

Kita melihat pakaian, lalu menilai seseorang.

Kita mendengar ucapan, lalu menilai kecerdasannya.

Kita melihat kemampuan, lalu menentukan harga dirinya.


Kita mendengar suara yang tidak sempurna, lalu merasa berhak menertawakannya.

Padahal tasawuf mengajarkan perjalanan yang berbeda: **dari melihat bentuk menuju melihat makna.**

Lafaz memang penting. Ketepatan bacaan juga penting. Dalam ibadah, seseorang tetap harus berusaha memperbaiki bacaannya.


Tetapi ada sesuatu yang tidak boleh dilupakan:

kesempurnaan lafaz tidak selalu menunjukkan kesempurnaan hati

Seseorang dapat membaca dengan suara yang sangat indah, tetapi hatinya mungkin sedang jauh dari Allah.

Sebaliknya, seseorang yang suaranya sederhana dapat mengucapkan kalimat yang sama dengan hati yang penuh kerinduan.


Di situlah tasawuf mengajak manusia berhenti terlalu cepat dalam menilai.

Azan bukan sekadar suara

Azan pada hakikatnya bukan perlombaan keindahan suara.

Azan adalah panggilan.

Allahu Akbar

Allah Mahabesar.


Seolah-olah seorang muazin sedang mengatakan kepada manusia:

Berhentilah sejenak dari kesibukanmu.

Tinggalkan perdaganganmu.

Tinggalkan kesombonganmu.

Tinggalkan persoalan duniamu.


Datanglah menghadap Zat yang lebih besar daripada seluruh persoalanmu.

Maka menjadi ironis apabila seseorang mendengar azan kemudian sibuk menilai suara orang yang mengumandangkannya.

Ia mendengar **suara manusia**, tetapi lupa terhadap **pesan Tuhan**.

Ia memperhatikan siapa yang memanggil, tetapi lupa kepada siapa panggilan itu diarahkan.

Dalam tasawuf, penyakit terbesar bukan suara yang kurang fasih


Penyakit hati yang lebih berbahaya bukanlah lidah yang belum sempurna.

Tetapi **hati yang merasa lebih tinggi daripada orang lain.**

Orang yang salah melafalkan sebuah kata masih dapat belajar.

Tetapi orang yang senang menertawakan kekurangan orang lain sedang berhadapan dengan penyakit yang jauh lebih dalam:

**ujub, merasa diri lebih baik.**

Dari ujub lahir kesombongan.

Dari kesombongan lahir penghinaan.

Dan dari penghinaan, seseorang mulai lupa bahwa dirinya sendiri adalah seorang hamba.


Tasawuf sangat keras terhadap penyakit ini.

Sebab perjalanan menuju Allah bukan perjalanan untuk membuat seseorang merasa lebih suci daripada orang lain.

Justru semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia mengenal kecilnya dirinya sendiri.

Semakin dalam seseorang menyelami hakikat kehambaan, semakin sedikit keinginannya untuk merendahkan manusia.

Bilal dan pelajaran tentang martabat manusia

Bilal bin Rabah r.a. adalah sosok yang sangat kuat dalam sejarah Islam.

Ia pernah menjadi seorang budak.

Ia disiksa karena mempertahankan tauhid.

Namun kemudian ia menjadi muazin Rasulullah ﷺ.


Dalam sebuah hadis sahih, Nabi ﷺ menyebut bahwa Bilal mengumandangkan azan sebelum fajar, dan kaum Muslimin mengenal perannya sebagai muazin Rasulullah.


Di sini terdapat pelajaran filosofis yang sangat dalam.

**Manusia sering memberikan nilai berdasarkan status, sedangkan Allah menilai berdasarkan kehambaan.**


Dunia bertanya:

“Siapa keluargamu?”

“Dari mana asalmu?”

“Seberapa tinggi pendidikanmu?”

“Seberapa bagus suaramu?”

“Seberapa besar kedudukanmu?”

Sedangkan jalan ruhani bertanya:

“Seberapa tulus hatimu ketika menghadap Allah?”


Bilal tidak menjadi mulia karena suara semata.

Ia menjadi mulia karena keteguhan tauhid, kesetiaan, pengorbanan, dan kehambaannya.

Jangan tertipu oleh keindahan lahir


Ini salah satu pelajaran terbesar dalam tasawuf.

Bentuk adalah kulit.

Makna adalah isi.

Suara adalah kendaraan.

Hati adalah arah perjalanan.


Seseorang bisa memiliki suara yang sangat indah ketika membaca ayat Al-Qur'an, tetapi hatinya belum tentu tunduk kepada ayat tersebut.

Seseorang bisa berbicara sangat fasih tentang kesabaran, tetapi dirinya mudah marah.

Seseorang bisa berbicara tentang tawaduk, tetapi merasa paling benar


Seseorang bisa mengumandangkan *Allahu Akbar* dengan suara yang menggetarkan masjid, tetapi diam-diam merasa dirinya lebih hebat daripada orang lain.

Di sinilah tasawuf mengingatkan:


**Jangan sampai lisan kita membesarkan Allah, tetapi hati kita justru membesarkan diri sendiri.**

Yang paling indah bukan suara yang sempurna

Yang paling indah adalah hati yang tunduk.

Sebab suara akan berhenti ketika napas berakhir.

Wajah akan berubah.

Tubuh akan menua.

Kedudukan akan hilang.

Nama akan dilupakan.


Tetapi keikhlasan seorang hamba di hadapan Allah tidak pernah menjadi sia-sia.

Maka apabila suatu hari kita mendengar seseorang membaca dengan kurang sempurna, jangan buru-buru menertawakannya.

Jika memang ada yang perlu diperbaiki, **perbaikilah dengan kasih sayang.**

Sebab orang yang sedang belajar membutuhkan tangan yang menuntun, bukan mulut yang menghina.


Dan jika kita sendiri yang memiliki kekurangan, jangan pula berhenti hanya karena takut ditertawakan.

Teruslah belajar.

Teruslah memperbaiki diri.

Sebab jalan menuju Allah bukan milik mereka yang sudah sempurna.


**Jalan itu justru ditempuh oleh orang-orang yang sadar bahwa dirinya belum sempurna.**


Pada akhirnya, siapa yang sebenarnya sedang diuji?

Mungkin bukan orang yang bacaannya kurang fasih.

Mungkin justru orang yang mendengarnya.

Sebab orang yang belum sempurna bacaannya sedang diuji dengan kekurangannya.

Sedangkan orang yang mendengar kekurangan itu sedang diuji dengan **hatinya**.

Apakah ia akan membantu atau menghina?

Apakah ia akan membimbing atau menertawakan?

Apakah ia akan melihat manusia sebagai hamba Allah atau sebagai objek untuk merasa dirinya lebih tinggi?


Karena itu, sebelum menilai suara orang lain, barangkali kita perlu bertanya kepada diri sendiri:

Bagaimana suara hatiku ketika tidak ada seorang pun yang mendengarnya?

Sebab di hadapan manusia, kita dapat memperindah suara.

Tetapi di hadapan Allah, yang berbicara bukan lagi suara.



**Yang berbicara adalah hati.**

Dan mungkin inilah salah satu rahasia terdalam dari tasawuf:

**Allah tidak membutuhkan suara kita untuk menjadi indah. Allah menghendaki hati kita menjadi benar.**

Maka jangan sibuk mencari-cari kekurangan pada suara seorang hamba, sementara kita lupa memeriksa kesombongan yang diam-diam tumbuh di dalam dada.

Sebab boleh jadi, suara orang lain terdengar kurang sempurna di telinga kita—

**tetapi hati kita sendiri yang ternyata sedang jauh dari-Nya.**

Sebarkan informasi bermanfaat ini kepada sanak keluarga dan jamaah.
Kirim WhatsApp